VIRUS KERITING PADA TEMBAKAU

posted in: Berita | 0

MENGENDALIKAN  PENYAKIT VIRUS KERITING PADA TEMBAKAU

PADA MUSIM TANAM TEMBAKAU TAHUN 2019

 

Oleh : RUDY TRISNADI. K.

Penyakit keriting merupakan gangguan utama yang dikeluhkan petani tembakau dari tahun ketahun, di tahun 2014 serangan penyakit keriting mulai meluas hingga tahun 2017 tidak mengalami penurunan, dikarenakan serangan penyakit ini pulalah penyebab petani gagal tanam dan terpaksa menanam ulang  hingga dua atau tiga kali tanam. Agar kerugian petani akibat penyakit keriting pada tembakau tidak terulang dari tahun ketahun maka Dinas Ketahanan Pangandan Pertanian Kabupaten Probolinggo dengan media informasi Website memberikan informasi kepada masyarakat tani  tentang kewaspadaan petani menghadapi musim tanam tembakau tahun 2019 terhadap penyakit keriting.

Penyebab penyakit keriting ini adalah Virus dan dari beberapa spesies virus pathogen yang paling dominan adalah TMV (Tobaco Mosaic Virus) atau Virus Mosaik Tembakau..

Sejarah

Sejarah penemuan virus dimulai tahun 1883 oleh ilmuwan Jerman bernama Adolf Meyer. Adolf  meneliti tanaman tembakau. Adolf  menemukan tembakau dengan daun yang tidak normal. Daun tersebut berwarna kekuning-kuningan dan setelah diamati terdapat cairan atau lendir. Daun tersebut menderita penyakit mosaik. Penyakit ini menyebabkan tanaman kerdil dan daunnya belang-belang. Menurut Adolf  Meyer, penyakit mosaik tembakau dapat menular. Adolf membuktikan dengan menyemprotkan ekstrak daun tembakau yang terkena penyakit mosaik ke tanaman yang normal. Hasilnya, daun yang semula normal menjadi berwarna hijau kekuning-kuningan. Berdasarkan hasil penelitiannya penyakit ini disebabkan oleh mikroba yang kecil sekali dan untuk melihatnya harus menggunakan mikroskop elektron.

Dimitri Ivanovsky melakukan penelitian yang serupa. Dimitri  berhasil menemukan alat penyaring bakteri. Dalam penelitiannya, Ivanovsky mengoleskan hasil saringan daun tembakau yang terkena penyakit mosaik ke daun tanaman yang normal. Hasilnya, tanaman tersebut tertular. Dimitri menyimpulkan mikroba penyebab penyakit tersebut bersifat patogen dan ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Pada tahun 1987, M. Beljerinck, menemukan fakta bahwa mikroorganisme yang menyerang tembakau tersebut dapat melakukan reproduksi dan tidak dapat dibiakkan pada medium untuk bakteri serta mikroorganisme tersebut tidak mati walaupun dimasukkan ke dalam alkohol. Pada tahun 1935, ilmuwan Amerika, Wendell M. Stanlye, berhasil mengkristalkan mikroorganisme penyebab penyakit mosaik pada tembakau. Makhluk itu kemudian dinamakan TMV (Tobaco Mosaic Virus) atau Virus Mosaik Tembakau. (Kurnia 2012)

Ciri-ciri TMV

Tobacco mosaic virus atau TMV mempunyai partikel berbentuk batang panjang dengan ukuran 300 x 18 nm. Memiliki genom RNA saja. Meskipun kisaran inang yang luas telah dilaporkan untuk TMV (199 spesies dari 30 famili) , selain host Solanaceae mungkin satu-satunya yang penting dalam sumber-sumber oculum untuk tanaman tembakau. Beberapa serangga mampu menularkan TMV, tetapi tidak efisien. Karena virus TMV mempunyai ketahanan yang tinggi dan sangat mudah ditularkan secara mekanik dengan sap tanaman sakit, serangga tidak dianggap penting dalam penyebaran virus. Sampai sekarang belum diketahui vektor penular TMV. (Shew 1990)

Kisaran Inang

Penyakit mosaik pada tembakau di pertanaman dapat ditemukan pada berbagai jenis tembakau. Salah satu tanaman yang menjadi inang TMV adalah dari famili solanaceae, amaranthaceae, azoaceae dan scrophulariaceae. Selain menyerang tanaman tembakau, TMV mempunyai cukup banyak inang antara lain tomat, cabai, mentimun, terong, ceplukan. Mentimun, Labu, Bayam, Celosia, Impatiens, Phlox, Zinnia, beberapa jenis tanaman merambat, pisang raja, naungan malam, dan gulma jimson.

Bioekologi

TMV diketahui salah satu virus yang stabil terhadap panas, dan memiliki titik panas aktivasi hingga 93º C dalam cairan perasan tanaman. Virus pada daun yang terinfeksi, pada kondisi kering masih mampu menginfeksi walaupun telah dipanaskan sampai pada suhu 120º C selama 30 menit. TMV yang menginfeksi tanaman tembakau berisi 4 g virus per liter cairan perasan tanaman, dan virus masih infektif walaupun telah diencerkan hingga perbandingan 1:1.000.000. Virus menjadi tidak aktif setelah 4-6 minggu dalam cairan perasan biasa, tetapi pada cairan perasan virus yang bebas bakteri (steril) mungkin dapat bertahan hingga 5 tahun, dan TMV pada daun terinfeksi yang dikeringkan di laboratorium selama lebih dari 50 tahun masih infektif. Pada tanaman yang terinfeksi, beberapa menit setelah virus menginfeksi jaringan tanaman, RNA mulai disintesis dan partikel baru berkembang dalam sitoplasma dan menyebar dari sel ke sel melalui plasmodesmata.

TMV merupakan parasit oblige atau jaringan sel yang hidup. Virus ini menginfeksi tanaman melalui luka. Bagian tanaman yang rentan jika kontak dengan TMV akan segera terinfeksi. TMV dapat bertahan selama berbulan-bulan pada tanah bekas penanaman, di air dan tanah di hutan. Sejumlah strain TMV pada tanaman obat-obatan telah diuraikan hampir diseluruuh dunia, dimana virus ini dapat dibedakan dari yang lainnya melalui reaksi inang, tetapi tidak pada tembakau. (Wardanah 2007)

Cara Penularan

Penularan virus dapat berlangsung secara kontak langsung, melalui serangga aphid, tanah, dan benih. Kontaminasi langsung terjadi melalui luka pada tanaman akibat aktivitas pemeliharaan tanaman, binatang, dan pelaksana di lapangan, ataupun sebab yang lain. Kontaminasi secara langsung dapat disebabkan oleh alat-alat pertanian yang digunakan dalam pemangkasan, pengendalian gulma, dan pembajakan. Kontaminasi pada benih dapat terjadi pada buah yang sakit. Lokasi virus terdapat pada external mucilage, testa, dan endosperma. Virus juga bersifat stabil dan mudah ditularkan dari benih ke pembibitan maupun pertanaman.

TMV masih menular walalupun setelah penyimpanan 50 tahun di laboratorium di 4 ° C/40 ° F. TMV memasuki sel tanaman melalui luka-luka ringan. Setelah TMV memasuki sel, partikel virus membongkar dengan cara yang terorganisasi untuk mengekspos TMV RNA. Virus RNA positif, dan menyajikan secara langsung messenger RNA (mRNA) yang diterjemahkan menggunakan host ribosom. Terjemahan dari replicase-terkait protein dimulai dalam beberapa menit setelah infeksi. Segera setelah protein ini telah disintesis, replicase mengaitkan dengan 3′ akhir TMV RNA positif untuk produksi RNA Negatif. RNA negatif adalah template untuk menghasilkan keduanya full-length genom +  RNA serta + subgenomic RNA (sgRNAs). SgRNAs yang diterjemahkan oleh ribosom inang untuk menghasilkan protein dan mantel protein. Mantel protein kemudian berinteraksi dengan disintesis +TMV RNA untuk perakitan progeni virion. Partikel-partikel virus ini sangat stabil dan di beberapa titik ketika sel-sel rusak atau daun mengering, mereka dibebaskan untuk menginfeksi tanaman baru. Sebagai alternatif, + TMV RNA dibungkus dalam protein, dan kompleks ini dapat menginfeksi sel-sel yang berdekatan. TMV menggunakan protein yang menyebar dari sel-sel melalui plasmodesmata, yang menghubungkan sel. Biasanya plasmodesmata terlalu kecil untuk bagian partikel TMV utuh.

Pergerakan protein (mungkin dengan bantuan inang belum teridentifikasi protein) membesar bukaan plasmodesmatal sehingga TMV RNA dapat pindah ke sel-sel yang berdekatan, melepaskan gerakan protein dan host protein, dan memulai babak baru infeksi. Seperti virus bergerak dari sel ke sel, akhirnya mencapai sistem vaskular tanaman (vena) untuk cepat sistemik menyebar melalui phloem ke akar dan tips tanaman tumbuh. Siklus penyakit TMV dan epidemiologi yang saling berkait karena virus sepenuhnya tergantung pada host untuk replikasi dan menyebar. Ada variasi luas dalam insiden penyakit, tergantung pada waktu memempelnya penyakit di bidang dan tanam praktek. TMV tanaman menghubungi tanaman yang sehat, atau oleh peralatan atau pekerja. TMV juga dapat bertahan hidup. Praktek-praktek pertanian, seperti tanam terus-menerus, memiliki potensi untuk menjadi masalah tertentu, terutama di fasilitas rumah kaca, di mana TMV inoculum mungkin meningkat pada lebih dari satu jenis tanaman.

Gejala Penyakit

Gejala penyakit mosaik adalah klorotik di sekitar tulang daun, semakin lama daun menajdi berwarna belang (mosaik), daun yang berwarna hijau akan lebih tua warnanya, dan pertumbuhan daun terhambat (ukurannya menjadi lebih kecil). Pada daun terjadi bercak-bercak hijau muda atau kuning yang tidak teratur. Bagian yang berwarna muda tidak dapat berkembang secepat bagian hijau yang biasa, sehingga daun menjadi berkerut atau terpuntir. Jika semai terinfeksi segera setelah muncuk, semai dapat mati. Jika tanaman terinfeksi setelah dewasa pengaruhnya dapat lemah sekali. Infeksi mosaik pada buah mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun jika tanaman terinfeksi sejak awal, buah hanya menjadi kecil, bentuknya menyimpang, dan pada dinding buah mungkin terjadi bercak-bercaknekrotik, Jika mosaik tembakau dan mosaik mentimun mengdakan infeksi secara bersamaaan, pada batang dan buah akan terjadi garis-garis hitam yang terdiri atas jaringn mati.

Upaya Pengendalian

Usaha pengendalian penyakit mosaik dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

  1. Pemilhan lahan pembibitan dan lahan tanam, menghindari lahan-lahan bekas tanaman inang yang terserang penyakit TMV. (Inang mosaik/Keriting : Cabe, Tomat, Terong, SemangkaMentimun, Labu, Bayam, Celosia, Impatiens, Ceri tanah, Phlox, Zinnia, beberapa jenis tanaman merambat, pisang raja, naungan malam, dan gulma jimson)
  2. Pemberian abu sekam, abu tomang atau tepung sisa bakaran arang pada lahan pembibitan atau lahan tanam dimaksudkan untuk menghambat penyebaran penyakit keriting
  3. Varietas tahan. Memilih varietas-varietas yang tahan akan penyakit TMV.
  4. Menggunakan bibit tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah terserang,
  5. Rotasi dengan tanaman bukan inang. Rotasi bertujuan untuk memutus rantai makanan atau memberi kondisi lingkungan yang tidak cocok bagi patogen sehingga populasinya turun. Beberapa tanaman yang untuk rotasi pengendalian penyakit TMV yaitu jagung, kapas, Fescue, kacang tanah, kentang, kedelai, dan ketela rambat.
  6. Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat,
  7. Penggunaan Agensia Hayati dengan Jamur Trichoderma disemprotkan ketanah pembibitan sebagai imunisasi bibit dan disiramkan / semprotkan pada lahan penanaman tembakau, dengan 3 x pengulangan pada umur tanaman 20. 30, 43 hari setelah tanam.
  8. Jangan menggunakan pupuk N terlalu tinggi akan memacu perkebangan penyakit keriting

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2014. https://nengneni131.wordpress.com/2014/12/16/penyakit-mosaik-tembakau/ [Diunduh 22Maret 2016].

Kurnia D. 2012. Tobacco Mosaic Virus. https://www.scribd.com/doc/88337968/13010052-Tobacco-Mosaic-Virus. [Diunduh 25Pebruari 2016].

Shew HD dan Lucas GB, ed. 1990. Compendium of Tobacco Disease. Amerika (USA) : Aps Press.

Wardanah T. 2007. Pemanfaatan Bakteri Perakaran Pemacu Pertumbuhan Tanaman Plant Growth-Promoting Rhizobacteria) Untuk Mengendalikan Penyakit Mosaik Tembakau (Tobacco Mosaic Virus) Pada Tanaman Cabai [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.