Dinamika populasi hama penggerek batang tebu Chilo sacchariphagus di Kabupaten Probolinggo

posted in: Berita | 0

Dinamika populasi hama penggerek batang tebu

Chilo sacchariphagus di Kabupaten Probolinggo

 

Oleh : Ika Ratmawati, SP

POPT Muda

 

Pendahuluan

Salah satu komoditi utama perkebunan yang sangat strategis peranannya adalah tanaman tebu mengingat komoditi ini erat kaitannya dengan kebutuhan gula nasional. Serangan hama pertanaman tebu merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan produktivitas. Pengendalian yang tepat, terarah, efektif dan efisien akan menyelamatkan kehilangan hasil akibat serangan hama. Dalam pengendalian hama mutlak diperlukan pengetahuan tentang biologi hama dan kondisi serangan di lapangan sehingga dapat ditentukan teknik/cara pengendalian, waktu pengendalian dan kebutuhan sarana pengendalian yang tepat. Monitoring/pemantauan hama secara rutin sangat membantu tindakan pengendalian agar lebih efektif dan efisien.

Besarnya kerugian gula diakibatkan oleh serangan hama penggerek tanaman tebu diperkirakan 10 % dari hasil gula atau lebih kurang 10 kw/ha. Tingkat kerugian yang disebabkan oleh hama penggerek batang ditentukan oleh derajat kerusakan pada ruas batang, dimana untuk setiap 1 % ruas batang yang rusak kehilangan gula per hektar diperkirakan sebesar 0,5 %  (Achadian, 2015). Sedangkan kerugian akibat serangan hama penggerek pucuk banyak ditentukan oleh waktu antara kematian dan penebangan (Disbun Prop Jatim, 2001) .

Salah satu dirasakan cukup signifikan pengaruhnya terhadap perkembangan tanaman tebu adalah adanya serangan hama penggerek batang tebu Chilo sacchariphagus. Monitoring (pemantauan) keberadaan suatu hama dimaksudkan untuk mengetahui dinamika populasi dan tingkat serangan di kebun dan menetapkan status hama di kebun sebagai bagian dari EWS (Early Warning System). Selain itu juga untuk menentukan tindakan pengendalian yang diperlukan (PHT hama) serta evaluasi tindakan pengendalian yang telah dilakukan. Data hasil pemantauan dapat digunakan sebagai data base untuk antisipasi pengendalian di masa mendatang.

 

 

Klasifikasi Chilo sacchariphagus

Hama penting penggerek tebu yang dikenal di Indonesia salah satunya yang terbanyak adalah penggerek batang tebu bergaris (Chilo sacchariphagus). Serangga penggerek ini tergolong dalam Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insekta, Ordo Lepidoptera, Famili Pyralidae, dan Genus Chilo (Anonim 2008).

 

Biologi Chilo sacchariphagus

Penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) meletakkan telur di bagian bawah permukaan daun. Telur berbentuk telur pipih dan berwarna bening serta memiliki bintik putih di bagian tengahnya. Telur penggerek batang diletakkan secara berkelompok dan tersusun miring atau diagonal menyerupai tulang daun. Betina meletakkan telur berbaris di atas daun, dengan masa perkembangan selama dua bulan. Selanjutnya setelah diletakkan, telur menetas menjadi larva yang memiliki empat garis longitudinal di bagian dorsalnya.

Stadia larva berlangsung selama 16–51 hari. Larva penggerek batang yang baru menetas panjangnya kurang lebih 2,5 mm dan berwarna kelabu. Semakin tua umur larva, maka warna tubuh berubah menjadi kuning coklat. Larva dewasa dapat mencapai panjang 3 cm. Larva dewasa yang akan menjadi pupa membuat lorong gerek yang mendekati permukaan kulit ruas/batang tebu sebagai persiapan jalan keluar bagi imago nantinya.

Kemudian stadia pupa berlangsung selama 6-7 hari. Pupa berada di dalam lorong gerekan di bagian tepi, dekat permukaan batang. Posisi pupa melintang (mendatar) ataupun tegak (vertikal) dan selanjutnya pupa berkembang menjadi imago. Lubang keluar bagi imago bila dilihat sekilas dari luar, tampak seperti noda atau lapisan bulat berwarna kecoklatan (Kalshoven, 1981).

 

Gejala serangan Chilo sacchariphagus

Gejala khas serangan penggerek batang berupa lubang gerekan pada batang tebu dan biasanya disertai kotoran bekas gerekan larva di sekitar lubang. Apabila ruas-ruas batang tersebut dibelah membujur maka akan terlihat lorong-lorong gerek yang memanjang. Terkadang lubang gerekan menembus pelepah daun. Kerusakan akibat serangan hama-hama penggerek ini menyebabkan turunnya bobot, kualitas dan kuantitas nira tebu. Batang tanaman yang terserang penggerek batang menjadi mudah patah dan luka bekas gerekan dapat menjadi tempat infeksi berbagai macam patogen yang menyebabkan rusaknya jaringan tanaman. Serangan berat dapat mencapai titik tumbuh yang menyebabkan kerugian fatal karena penggerek batang menyebabkan matinya tanaman tebu. Biasanya dalam satu batang terdapat lebih dari satu ulat penggerek. Kerusakan tanaman tebu akibat serangan hama penggerek batang diperkirakan mencapai 5 – 40% (Kalshoven, 1981).

Ratmawati, 2014

Gb. Lorong gerekan hama penggerek batang dan ulat Chilo sacchariphagus.

 

Pengendalian Chilo sacchariphagus

Konsep pengendalian hama terpadu selalu dijadikan rekomendasi dalam pengendalian suatu OPT dilapang. Dalam hal ini yang penting adalah melakukan pengamatan perkembangan populasi hama. Pengendalian serangan hama penggerek batang tebu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  1. Cara fisik mekanis dengan Rogesan, yaitu dengan cara memotong semua pucuk tanaman yang ada tanda-tanda serangan. Pemotongan diusahakan kena ulatnya, tetapi tidak sampai merusak titik tumbuh. Rogesan diulangi setiap 2 minggu dan dapat diakhiri jika tanaman sudah cukup tinggi (umur 5 sampai 6 bulan).
  2. Cara biologis dengan Trichogramma japonicum. Pelepasan Trichogramma japonicum 2-4 pias/ha/minggu mulai tanaman umur 2 bulan 4 bulan. Jumlah pias = 100 pias/ha.

 

Dinamika populasi Chilo sacchariphagus berdasarkan monitoring tahun 2017

Monitoring (pemantauan) keberadaan suatu hama dimaksudkan untuk mengetahui dinamika populasi dan tingkat serangan di kebun dan menetapkan status hama di kebun sebagai bagian dari EWS (Early Warning System).

Selain itu juga untuk menentukan tindakan pengendalian yang diperlukan (PHT hama) serta evaluasi tindakan pengendalian yang telah dilakukan. Data hasil pemantauan dapat digunakan sebagai data base untuk antisipasi pengendalian di masa mendatang. Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan pengamatan/pemantauan hama ialah organisasi tim pengamat, tersedianya tenaga pengamat yang trampil, penentuan sampel kebun, waktu dan cara pengamatan serta evaluasi dan pengawasan.

Tenaga pengamat merupakan faktor penting yang menentukan data hasil pengamatan. Pengamat harus benar- benar mengerti dan memahami tanda-tanda serangan hama atau gejala serangan penyakit. Petugas pengamat sebagai ujung tombak pengendalian OPT perkebunan dilapang perlu rutin melakukan kegiatan pemantauan populasi OPT, sehingga jika populasi tinggi dapat segera tanggap dalam mengambil keputusan pengendalian.

Berikut dinamika populasi hama penggerek batang tebu Chilo sacchariphagus pada tahun 2017 di Kabupaten Probolinggo dalam bentuk grafik sebagai berikut :

Gb. Grafik luas serangan OPT Chilo sacchariphagus di Kabupaten Probolinggo tahun 2017

Sumber :  Data UPPT Perkebunan Kabupaten Probolinggo (2017)

 

Berdasarkan grafik di atas bahwa serangan OPT Chilo sacchariphagus serangan tertinggi berada di Kecamatan Maron dan Gending dan terjadi pada bulan Pebruari hingga Mei.

Dinamika populasi OPT Chilo sacchariphagus diharapkan bisa memberikan informasi lebih lanjut dalam mewaspadai dan antisipasi serangan lebih lanjut serta dapat mengambil langkah tindakan yang tepat dalam upaya pengendalian OPT Chilo sacchariphagus agar tidak menjadi lebih banyak dan lebih luas di Kabupaten Probolinggo.

 

Referansi

 

Achadian, E. M, 2015. Metode Pengamatan Hama Penting Pertanaman Tebu Di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Pasuruan.

Disbun Propinsi Jawa Timur, 2001. Pengendalian Hama Utama Tanaman Tebu (Penggerek). Proyek pembangunan usahatani perkebunan Propinsi Jawa Timur.

Kalshoven, L. G. E. (1981). Pests of Crops in Indonesia. Revised and Translated by van den Laan. Jakarta: PT Ichtiar Baru – van Hoeve.